Hal Yang Membuat Timnas U-19 Takluk Telak dari Vietnam

Posted on

Setelah bermain bagus dengan membantai Filipina dengan kedudukan 9-0, Timnas Indonesia U-19 malah tidak berkutik saat bertemu dengan Vietnam. Garuda Nusantara pun memperlihatkan sejumlah titik lemah didalam permainan nya. Laga ke-3 Grup B Piala AFF U-18 kontra Vietnam sepertinya diyakini sebagai pertandingan yang tidak mudah untuk Indonesia. Karena, Vietnam pun sudah membukukan hasil bagus di 2 pertandingan sebelum itu ketika menghadapi Brunei dan Filipina. Stadion Thuwunna pun seperti tidaklah berada di pihak Indonesia di Senin (11/9) sore. Meskipun sanggup mengendalikan jalannya pertarungan, Rachmat Irianto dan kolega malah musti kalah dari skor yang telak 3 gol tanpa balas. Untuk Vietnam, hasil tersebut dapat memuluskan ambisi mereka ke semifinal. Dari 3 gol yang dicetak oleh Vietnam, dapat diambil sejumlah pelajaran yang memperlihatkan jika masih ada cela didalam permainan tim kendali Indra Sjafri ini. Berikut merupakan ulasan selengkapnya ihwal kekalahan Indonesia melawan Vietnam:

Penggantian Penjaga gawang

Faktor penggantian penjaga gawang ini perlu diakui jadi titik vital permainan Indonesia ketika bertemu dengan Vietnam. 3 gol yang bersarang ke mistar Garuda Nusantara semuanya berlangsung sehabis posisi penjaga mistar berganti. Pada menit ke-37, Indra Sjafri musti menarik keluar Muhammad Riyandi sebab mengalami luka. Penjaga gawang dari klub Barito Putra tersebut terkena masalah pada lututnya pasca melakukan tendangan gawang. Posisinya lalu digantikan oleh Aqil Savik. Satu menit sehabis masuk lapangan, Savik pun harus kejebolan oleh Le Van Nam melalui tendangan kerasnya. Di menit ke-45, Savik lagi-lagi harus memungut bola dari gawangnya, saat ini melalui sundulan kepada Le Van Nam. Savik kejebolan gol ke-3 di menit ke-86 melalui sundulan Bui Hoang Viet Anh. Aqil Savik terakhir diketahui masuk ke medan pertempuran ketika keadaan yang belum ready. Ia tidak memiliki waktu yang pas demi melakukan pemanasan jelang menggantikan Riyandi.

Lemah Antisipasi Bola Mati

3 gol yang bersarang ke mistar Indonesia tentu saja bukanlah kesalahan mutlak seorang Agil Savik. Ada andil besar juga melalui garis belakang yang begitu mudah dilewati oleh para pesepakbola Vietnam, khususnya antisipasi bola mati. Gol pertama Vietnam, tampak jelas jika ada koordinasi yang tidaklah rapi melalui garis belakang Indonesia didalam kondisi sepak pojok. Le Van Nam didalam posisi yang bebas jelang menghasilkan gol. Padahal, ketika itu ada 8 punggawa Indonesia di kotak penalti dan Vietnam cuma menempatkan 4 pemain saja. Unggul total pemain, seharusnya para punggawa Indonesia dapat menutup ruang untuk lawan. Kesalahan yang serupa terjadi saat gol ke-3 Indonesia yang dicetak oleh Bui Hoang Viet Anh. Punggawa Vietnam itu berdiri tidak ada pengawalan. Terdapat satu pemain yang mencoba berduel namun telah terlambat membuat gerakan.

Memberi Ruang Bagi Sayap Vietnam

Semenjak awal laga, dari beberapa statmen yang dikeluarkan oleh Timnas Indonesia, sesungguhnya mereka telah mengetahui jika keunggulan Vietnam berada di dua pemain sayapnya. Namun hal tersebut seolah-olah tidak diantisipasi. Rifad Marasabessy dan Firza Andika yang tampil posisi bek sayap berlaga lumayan agresif. Keadaan ini lalu membikin ada beberapa celah di ke-2 sisi pertahanan Indonesia. Gol ke-2 Vietnam sebagai buktinya. Lieu Quang Vinh memperoleh ruang yang sangat terbuka di area yang dimiliki oleh Rifad. Ia lalu melepas umpan crossing yang akhirnya bisa diselesaikan secara sundulan oleh Le Van Nam. Keadaan ini sesungguhnya telah tampak semenjak laga menghadapi Myanmar. Gol yang dicetak oleh Myanmar pun datang dari crossing. Terdapat ruang kosong yang melalui area yang dijaga oleh Rifad.

Kreativitas Garis Tengah Mandek

Manajer Indra Sjari memasukkan 3 punggawa dengan tipikal gelandang pekerja didalam formasi 4-1-3-1-1. 3 pemain itu adalah Muhammad Iqbal, Muhammad Luthfi, Syahrin Abimanyu. Sedangkan, Saddil Ramdani dan Egy Maulana Vikri lebih banyak terdapat di sektor sayap. Pergerakan Egy dan Saddil memperoleh perhatian serius melalui pesepakbola Vietnam. Malah, manajer Hoang Anh Tuan sebagaimana sudah memberikan instruksi special agar keduanya takkan leluasa bergerak dan membuat serangan. Didalam sejumlah momen, anggota Vietnam tidaklah ragu untuk membuat pelanggaran guna dapat membendung laju Egy dan Saddil. Sedangkan, 3 gelandang tengah berlaga apik demi menjaga ritme bermain dan distribusi bola. Namun, mereka kurang, cekatan ketika membangun serangan. Indra Sjafri mencoba berusaha menemukan solusi dengan memasukkan Witan Sulaeman. Namun, tidak ada gol yang dapat dibuat. Tidak sedikit yang ingin tahu kenapa Feby Eka Putra yang membikin hattrick menghadapi Filipina tidak dimasukkan. Masih belum ada kabar resmi. Namun, punggawa asal Sidoarjo itu diketahui tidaklah ikut latihan terakhirnya jelang melawan Vietnam sebab kondisi kebugaran.

Kedisiplinan Permainan Vietnam

Terlepas dari sejumlah kekurangan dari Timnas Indonesia, musti diakui pula jika Vietnam bermain cukup baik. Mereka berlaga dengan disiplin posisi yang begitu bagus dan efektif didalam menggunakan kesempatan gol. Catatan statistik memperlihatkan jika Vietnam cuma membuat 5 tendangan ke mistar dan 3 di antaranya sebagai gol. Vietnam pun cuma mengendalikan 34 penguasaan bola, berbanding 66 % di kubu Indonesia, namun mereka dapat bermain cukup efektif. Khususnya didalam mengkonversi kesempatan melalui bola mati. 2 gol terjadi daripada kondisi sepak pojok. Sekitar 90 menit, The Golden Stars cuma memperoleh 3 sepak pojok saja. Indonesia sesungguhnya memperoleh kesempatan melalui sepak pojok lebih banyak dari 5 kali. Yang sangat mencolok jelas saja disiplinnya punggawa Vietnam ketika bertahan. Bui Hoang Viet Anh dan kawan-kawan bagai tidaklah terpancing agar keluar menggempur, dan tetap menutup seluruh celah untuk pergerakan setiap pemain depan Indonesia.