Marco van Basten
Marco van Basten

Profil Pesepakbola Marco van Basten

Posted on

Profil Pesepakbola Marco van BastenMarco Marcel Van Basten merupakan striker asal Belanda yang memperoleh ketenaran di berbagai klub di dunia. Van Basten lahir tanggal 31 Oktober 1964 di Utrecht, Belanda. Van Basten mengawali kariernya bersama tim lokal di usia 7 tahun. Setelah setahun Van Basten pindah ke klub, UVV Utrecht, Van Basten tinggal di tempat itu selama hampir 1 dekade. Van Basten mengawali karier profesionalnya di usia 17 tahun, sebagai pemain Ajax Amsterdam (Klub Eredivisie Belanda). Keberhasilan Van Basten terbilang cukup pesat, dan Van Basten mulai mendapatkan pujian & Mendulang gol untuk timnas Belanda. Van Basten menikmati statusnya di beberapa klub internasional di dunia, sebelum kariernya tersendat karena cedera.

Marco van Basten

Marco van Basten saat ini mengelola timnas Belanda, meskipun muncul laporan bahwa Van Basten mungkin cocok dengan mengambil alih posisi manajerial di Chelsea. Van Basten memimpin timnas Belanda hingga berhasil di kualifikasi Kejuaraan Eropa tahun 2008. Van Basten melakoni debut profesional tanggal 3 April 1982, Van Basten mencetak gol bagi Ajax ketika melawan NEC Nijmegen, Van Basten masuk menggantikan Cruyff. Van Basten mencetak 9 gol di musim pertamanya bermain, Meskipun bermain hanya di 20 game karena persaingan yang ketat untuk di starting line up. Pindah klub akan memberi jalan bagi Van Basten untuk leboh sering mendapatkan waktu bermain, meskipun selama 4 musim ia mencetak 117 gol dalam 112 pertandingan. Puncak karier Van Basten adalah pada musim 1985/86. Van Basten dianugerahi Penghargaan Sepatu Emas di tingkat Eropa. Van Basten berhasil melesakkan 151 gol yang mengesankan dalam 172 pertandingan bersama Ajax & membawa Ajax memenangkan Piala Winners.

Di tahun 1987, Van Basten dipindahkan ke AC Milan, di mana Van Basten dianugerahi Pemain Sepakbola Terbaik Eropa Tahun pada musim 1988/89. Musim pertama Van Basten dengan AC Milan tidak sesukses sewaktu di Ajax. Van Basten hanya bermain 9 permainan dikarenakan cedera pergelangan kaki yang bakal kembali mengakhiri kariernya di lapangan hijau. Pada musim 1990/91, Van Basten juga menunjukkan grafik yang menurun di timnas Belanda di Piala Dunia & dilarang bermain bagi AC Milan di Kompetisi Eropa selama 1 tahun, setelah Van Basten menolak untuk bermain di lag semi-final tahun 1991 karena masalah lampu sorot. Tahun 1992 merupakan tahun di saat Marco kembali ke bentuk permainannya di AC Milan, dengan dianugerahi penghargaan Capocannoniere (untuk mencetak 31 gol pada 25 pertandingan) untuk ke-2 kalinya dan AC Milan memenangkan liga Italia. Prestasi baiknya ini sayangnya tidak tercermin di dalam kinerja timnas Belanda. Namun, ini tidak menghalangi Van Basten, yang mentorehkangol demi gol di Liga Champions, Van Basten pun akhirnya mendapat anugerah Golden Ball Award untuk ke-3 kalinya & diberi gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA .

Sayangnya, cedera Van BAsten kembali dan setelah operasi ke-4 pada tahun 1993, Van Basten memainkan pertandingan liga terakhir bagi AC Milan. Jelas bahwa Van Basten tidak lagi pemain yang sama ketika sebelum cedera dulu & Milan kehilangan final Liga Champions usai di taklukkan Marseille 1-0. Marco Van Basten berjuang hingga sampai ia dipaksa untuk pensiun di 18 Agustus 1995. Usai meninggalkan Milan, van Basten menyatakan jika dirinya tidak tertarik dalam karier manajerial. Namun, Van Basten menerima peran asisten Ajax tim ke-2 di tahun 2003. Setahun kemudian, Van Basten diangkat sebagai manajer timnas Belanda. Van Basten mengadopsi sikap keras menjadi manajer, mengeluarkan beberapa pemain terkenal yang kurang produktif lagi menurut Van Basten. Van Basten juga menunjukkan minat besar gunamencari pemain dari luar tiga tim-tim atas di Belanda, juga membuat Salomon Kalou untuk pindah kewarganegaraan menjadi Belanda di tahun 2005. Namun, Kalou akhirnya mengambil posisi di tim Pantai Gading. Waktunya sebagai manajer bukan tidak ada kritik, khususnya ketika Van Basten memilih untuk mendepak Ruud van Nistelrooy (ydengan torehan 28 gol bagi Belanda) di Piala Dunia 2006. Van Nistelrooy lalu bersumpah tidak akan pernah bermain lagi bagi timnas Belanda selama van Basten masih berada di kursi pelatih. Rupanya sengketa tersebut diselesaikan Mei 2007, namun hubungan terus buruk dengan banyaknya pemain yang disingkirkan olehnya ketika menjadi manager Belanda.